LAPORAN KULIAH LAPANGAN DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTREPRENEURSHIP


Fenomena pelacuran atau prostitusi merupakan suatu potret aktifitas yang melibatkan banyak pihak dalam satu keterkaitan, seperti mucikari, calo, serta konsumen atau pelanggan yang biasa disebut laki-laki hidung belang. Pelacuran memang marak diperkotaan, kota menyihir para penghuninya menjadi “urban” terhadap orang-orang asing. Modernitas di masyarakat menciptakan gaya hidup yang saat ini menjadi standard untuk masyarakat luas. 
Perbincangan tentang prostitusi dapat dijumpai di berbagai media yang memberikan  gambaran nyata tentang kehidupan masyarakat khususnya tentang pelacuran atau prostitusi dengan segala permasalahannya. Aktifitas pelacuran dianggap sebagai komoditas ekonomi (walaupun dilarang UU) yang dapat menghasilkan nilai rupiah atau materi bagi pelaku maupun lingkungan sekitar. 
Indonesia dalam konteks sejarah, pada masa pendudukan Jepang disinyalir terjadi eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap perempuan dan juga ada jaringan perdagangan perempuan untuk dijadikan pelacur. Indikasi ini terkait dengan banyaknya perempuan yang tertipu atau dipaksa memasuki dunia prostitusi. Bangsa Jepang menawarkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik di Tokyo atau kota- kota Indonesia lainnya kepada sejumlah perempuan. Banyak perempuan yang tertarik dengan tawaran itu dan dibawa dan ditampung ke daerah-daerah sekitar pelabuhan Semarang, Surabaya dan Jakarta (Tanjung Priok). Dalam kenyataanya mereka dipaksa melayani hasrat seks para serdadu dan perwira Jepang serta dilarang meninggalkan rumah bordil.
Prostitusi atau praktik pelacuran merupakan profesi yang usianyasama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Banyak kalangan berpendapat bahwa  prostitusi ada sejak manusia ada dan terus berkembang sampai saat ini. Prostitusi berkembang karena terciptanya mekanisme pasar yang menjadikan pelacuran sebagai suatu bisnis seksyang sangat menguntungkan. Prostitusi  saat ini telah menjadi fenomena sosial yang menjadi faktor pendukung maraknya hiburan dan kesenangan yang ditawarkan di beberapa kota di Indonesia, termasuk di Kota Surabaya. Bahkan secara implisit oleh para pemburu kesenangan telah dijadikan salah satu  sex tourisme, karena mengingat prostitusi yang semakin waktu tidak pernah pernah terlihat surut ada sekitar 21.000 anak-anak yang dilacurkan di Indonesia untuk dijadikan pekerja seks, antara lain beroperasi di tempat-tempat pelacuran yang terang-terangan dan di panti pijat, di tempat-tempat karaoke, bar, diskotik dan di jalan-jalan. 
Di Surabaya pada tahun 1884, kegiatan pelacuran muncul di daerah yang menjadi sentral proyek pembangunan jalur kereta api. Kegiatan prostitusi muncul  dan berkembang untuk melayani pekerja bangunan jalur kereta api, kemudian diikuti dengan pembangunan tempat-tempat penginapan sebagai sarana pendukung. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1940-an, muncul lokalisasi yang sangat terkenal di Kota Surabaya yaitu  Kembang Jepun. Para perempuan penghibur disitu melayani hasrat seks tentara yang mencari hiburan di tengah perang.
Surabaya dapat digolongkan sebagai daerah pesisir yang berada dipinggiran pantai. Karena posisinya yang berada dipinggir pantai, Surabaya menjadi salah satu pusat perdagangan di pulau Jawa. Surabaya mampu menjadi daya tarik untuk urbanisasi bagi masyarakat Indonesia, Jawa Timur khususnya. Bagi masyarakat urban datang de–ngan berbagai motif dan harapan untuk merubah nasib lebih baik dari kondisi sebelumnya. Seiring dengan perkembangan waktu akibat urbanisasi maupun pertumbuhan penduduk, menjadikan Surabaya sebagai kota yang majemuk yang ditandai dengan bervariasinya tingkat sosial maupun status sosial masyarakat. Kemajemukan masyarakat merupakan realita sosial yang tidak dapat dihilangkan, pembangunan yang bergerak cepat dan tidak mampu diimbangi oleh daerah lain semakin memperdalam jurang ketimpangan. 
Pelacur telah dikonstruksi sebagai perempuan nakal, perempuan penggoda laki-laki yang menempati area hitam. Pelacur adalah kelompok yang terbuang dari dunia putih, baik, terhormat. Sebenarnya dalam banyak hal, sebenarnya mereka itu adalah korban dari sistem sosial yang tidak bersahabat dengannya, mereka sebenarnya orang yang sedang menjalani realita hidup yang (mungkin) tidak diharapkan. Tindakan yang sedang dijalaninya bisa jadi sebuah keterpaksaan sebagai akibat dari ketiadaan pilihan yang rasional bagi kehidupannya. Secara umum pasti sepakat, bahwa kehidupan di area prostitusi bukanlah pilihan utama dalam kehidupan sosial manusia. Bahkan tidak seorangpun yang menanamkan cita-cita hidup di dunia prostitusi. Kerasnya terpaan kehidupan sosiallah yang menghantarkan seseorang menjalani kehidupan prostitusi. Pelacur dianggap sebagai orang yang telah berada di luar norma masyarakat yang lazim. Padahal sesungguhnya mereka adalah sama seperti manusia lainnya yang butuh pengakuan sosial. 
Aktifitas prostitusi sebenarnya bukan hanya pada pelanggan dan pelacur namun sudah menjadi milik masyarakat lokalisasi. Lokalisasi memberikan keuntungan pada kelompok masyarakat  lokalisasi:  pelacur, mucikari,  calo, tukang parkir, pemilik warung, pedagang, pengurus kampung ikut merasakan rezeki dari aktifitas prostitusi ini. 
Dolly atau Gang Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase.
Konon lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
            Gang Dolly ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der mart. Keturunan dari Dolly sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis. Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya. Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks berasal dari Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Surabaya, dan Kalimantan.
            Namun Gang Dolly kini berbenah menampakkan wujud barunya setelah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berhasil menutupnya pada Rabu 18 Juni 2014.
Pada malam terakhir bisnis prostitusi di Gang Dolly, etalase kaca yang biasa memajang para Pekerja Seks Komersial (PSK) berpakaian minim, terlihat kosong dan gelap. Para muncikari tak lagi sibuk bertransaksi dengan para tamu sambil memencet kalkulator.
Sementara, warga menutup rumah dan toko, khawatir kericuhan bakal terjadi. Suasana mencekam kala itu.
Pada saat bersamaan di Gedung Islamic Center Surabaya, yang jaraknya sekitar 1 km dari Dolly, sejumlah pejabat penting berkumpul, di antaranya Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Gubernur Jatim Soekarwo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Mereka secara resmi menutup operasional lokalisasi Gang Dolly.
            Lokalisasi Dolly yang tersebar di lima RW di wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, memang terbagi menjadi dua lokalisasi. Pertama, lokalisasi Gang Dolly --sebenarnya Jalan Kupang Gunung Timur I– serta deretan wisma yang terletak di sisi selatan Jalan Jarak.
Bisnis prostitusi tampaknya tak bisa hilang begitu saja di bekas lokalisasi Dolly yang secara resmi telah ditutup oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada 18 Juni 2014. Masih ada yang melakukannya dengan cara sembunyi-sembunyi, memanfaatkan berbagai hotel yang letaknya jauh dari Dolly atau kamar-kamar tertentu di beberapa rumah kost di wilayah tersebut.
Kawasan Dolly yang pernah disebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara dengan 1.449 PSK dan 313 mucikari itu memang telah berubah wajah. Jika dulu berbagai wisma, karaoke, atau salon berderet di Jalan Jarak, kini hanya tersisa bekas-bekasnya. Wisma atau salon berubah menjadi toko komersial seperti mini market, counter handphone dan pulsa, pangkas rambut, air isi ulang, bengkel motor dan aksesorinya atau warung kopi. Adapun Gang Dolly atau Jalan Kupang Gunung Timur I juga telah berubah wajah meski masih tersisa beberapa bangunan rumah dengan kaca etalase yang dulu dipergunakan para "Mbak-Mbak" menunggu para tamunya. Di ujung jalan Kupang Gunung Timur I, tepatnya rumah nomor 1A yang terdri dari tiga lantai, kini dijadikan usaha pangkas rambut “Abassy”. Dulu, tempat itu dikenal orang sebagai “Salon Ari”.
Buntut penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak memang berimbas pada harga sewa dan harga jual rumah di kawasan tersebut. Untuk harga rumah misalnya, bisa naik hingga tiga kali lipat. Jika dulu masih kawasan lokalisasi, rumah warga di berbagai gang Putat Jaya di Jarak dengan luas tanah sekitar 100 meter persegi sekitar Rp100 juta, kini melenting menjadi Rp300 juta hingga Rp350 juta.
Suasana malam di Dolly juga sudah berubah total. Jika dulu sekitar pukul 22.00, kehidupan malam mulai berdenyut cepat, kini justru mulai terlihat sepi layaknya perkampungan lain di Kota Buaya. Semakin larut, kawasan tersebut juga turut terlelap. Kecuali di beberapa sudut tempat warung kopi yang buka 24 jam, tempat para lelaki berkumpul untuk sekedar ngobrol melewatkan malam. Kehidupan malam yang sepi itu memang menyisakan duka bagi banyak warga yang dulu “menggantungkan” hidup dari kehidupan malam di Dolly. Dari total 15 RW di Kelurahan Putat Jaya, sebanyak lima RW menjadi tempat lokalisasi dengan total jumlah penduduk sekitar 10 ribu orang.
Saat masih menjadi lokalisasi, banyak warga yang membuka toko di rumah mereka untuk memenuhi kebutuhan para Mbak-Mbak dan tamu-tamunya. Mulai dari rokok, sabun, shampo, atau mie instan hingga beras. Begitu lokalisasi ditutup dan tak ada lagi denyut kehidupan malam, satu per satu toko milik warga pun ikut tutup. Kondisi inilah yang merupakan pekerjaan rumah besar bagi Walikota Risma dan jajarannya. Walikota Risma sendiri bukannya tak menyadari pentingnya memberi mata pencaharian bagi warga asli di bekas lokalisasi. Sejak lokalisasi ditutup, Risma menginstruksikan agar dibentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bisa dilakukan oleh warga agar memiliki sumber mata pencaharian yang baru. Maka terbentuklah 13 UKM. Yakni pembuatan sepatu, tempe “Bang Jarwo”, batik “Putat Jaya”, konveksi, sablon, bandeng, manik-manik, samiler Samijaya (kerupuk singkong), minyak rambut, atau minuman. Batik Putat Jaya sendiri terdiri dari tiga kelompok, yakni Canting Surya, Albujabar dan Jarak Arum. Nama Dolly dipertahankan mengingat nama itu sudah terlanjur mengindonesia dan bahkan mendunia.Berbagai gang yang ada diberi tema sesuai keberadaan UKM di dalamnya. Sebut saja “Gang Samijali” untuk Gang Putat Jaya IV-A yang merupakan sentra pembuatan kerupuk singkong. Atau “Gang Remo”, nama tarian khas Surabaya, untuk Gang Putat Jaya III-A. Nama tersebut disematkan karena di dalamnya memang ada tempat latihan bagi generasi muda yang belajar tari Remo. Juga “Gang Batik” untuk Putat Jaya VIII-B. Risma sendiri mengaku bakal terus berupaya memberdayakan ekonomi di kawasan eks lokalisasi melalui berbagai macam pelatihan keterampilan. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebijakan yang diambil. Risma memahami bahwa dia harus membayar kebijakannya menutup lokalisasi Dolly dengan mencarikan berbagai sumber penghidupan baru bagi warga yang tinggal di bekas lokalisasi tersebut.
Persoalan dan fenomena lokalisasi tampaknya sudah terlalu mengakar, rencana pemerintah menutup lokalisasi Dolly dan Jarak di Surabaya “diprediksi” tak berjalan mulus seperti yang direncanakan. Dalam memberantas atau menyadarkan pihak-pihak yang terlibat dalam praktik prostitusi di Kota Surabaya tersebut, khususnya bagi para PSK dan mucikari ini sebenarnya sudah lama dilakukan pendekatan dakwah persuasif oleh para pemuka agama di Kota Surabaya. Salah satunya dilakukan oleh KH. Khoiron Syu’aib. 
Penutupan lokalisasi Dolly ini dibantu oleh para elemen-elemen dari bapak Sunarto dan Ustadz KH Khoiron serta dibantu oleh Bapak Sunarto Sholahuddin. Yang dimana bapak Sunarto ini merupakan seorang dokter prostitusi yang memiliki ide untuk penutupan lokalisasi ini, lalu ustadz yang senantiasa memberi ceramah para WTS dan mucikari serta bapak Sholahuddin yang membatnu penutupan Dolly ini secara finansial. Di proses penutupan ini, ustadz Khoiron juga bertemu dengan seorang preman pimpinan lokalisasi yang sudah bertaubat hingga menemani ustad Khoiron dalam berjuang untuk menutup daerah lokalisasi Dolly ini. Mantan preman itu bernama Bapak H. Gatot Subiantoro. Elemen-elemen yang membantu dalam penutupan Dolly ini bernama FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya). Selain itu peran Ustadz Petruk pun amat luar biasa. Takmir Masjid yang besar di daerah prostitusi. Yakni ustadz Ngadimin yang sering disapa Pak Petruk berdakwah secara intens di Gang Dolly, boleh dikata bermula sejak menjabat sebagai ketua takmir masjid at-Taubah yang didirikan di tengah gemerlap lampu dan detak musik (diskotek) pada tahun 1995. Sejak dipilih sebagai takmir masjid itulah, ia dituntun untuk berdakwah secara ekstra hati-hati. Sebab, siapa pun tahu akan resiko dan "tantangan" yang akan dihadapi.  
Kyai Khoiron dikenal oleh masyarakat Kota Surabaya sebagai kyainya lokalisasi. Ia berdakwah di lokalisasi Kota Surabaya sejak tahun 1980-an hingga saat ini. Awalnya ia merasa ragu untuk berdakwah di sekitar rumahnya (Bangunsari-Surabaya). Alasannya adalah kesempatan untuk berhasil sangat kecil sekali, sebab pada awal tahun 1980-an jumlah Pekerja Seks Komersial (PSK) di daerah tersebut mencapai 3000-an, yang tersebar di 15 RT di Lokalisasi Bangunsari. Tak hanya itu saja, karena pendidikannya yang belum tuntas Kyai Khoiron saat itu tengah melanjutkan pendidikannya di S-1 Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya–  juga menjadi alasan keraguan untuk berdakwah di daerah yang penuh dengan kemaksiatan itu. Tetapi, baginya selalu merasa ada yang tak nyaman tatkala melihat kemaksiatan yang selalu terjadi di hadapannya. Ia merasa harus ada sesuatu yang diperbuat untuk menyelamatkan mereka, karena ia yakin bahwa dalam hati kecil mereka ingin sekali bertobat dan kembali ke  jalan Allah. Di samping itu, ia juga percaya bahwa Allah SWT., akan mengampuni dan memaafkan dosa hamba-Nya yang bertaubat. Oleh sebab itu, atas dorongan dari hati nurani dan perintah agama tersebut, Kyai Khoiron memantapkan diri untuk berdakwah di lokalisasi Kota Surabaya.
Masjid At Taubah juga menjadi saksi perjuangan penutupas lokalisasi Dolly. Keberadaan masjid at-Taubah itu sendiri merupakan pengembangan dari musholla al-Huda. Karena animo masyarakat yang lumayan tinggi terhadap kehadiran sarana dakwah pada waktu itu, maka pada 17 Februari 1989 nama musholla al-Huda itu resmi "berganti nama" masjid at-Taubah. Semula, bangunan masjid itu berlantai satu dan baru tahun 1991 berlantai dua dan didirikan pula TPA at-Taubah. Seiring berjalannya waktu, masjid at-Taubah lambat laun berbenah.

Tapi, di mata pak Petruk, keadaan yang serba terbatas itu tak menyurutkan langkah berdakwah. Ia merangkul kalangan muda sebagai staf pengajar dan berupaya memanfaatkan sebidang bangunan di samping rumah untuk ruang TK. Tak berlebihan, dari kiprah dakwah pak Petruk itu, kini sejumlah siswa tetap bertahan untuk menimba ilmu meski berada di tengah-tengah tempat maksiat. Apalagi, perjalanan panjang keberadaan masjid at-Taubah di tengah lokalisasi Dolly itu direspon positif oleh masyarakat, tak terkecuali pula para pekerja malam. Bahkan beberapa kupu-kupu malam dan mucikari yang punya anak pun tak segan menitipkan putra-putri mereka untuk menimba ilmu agama dan mengaji di TPA at-Taubah.
Pendekatan dakwah yang dilakukan Kyai Khoiron cukup persuasif. Misalnya, ketika ia telah mendapati Ketua RW yang tengah asyik berpesta menikmati minuman keras bersama PSK dan Mucikari, maka kendati pun ia mengetahui hal tersebut, dirinya tidak langsung menegurnya. Setelah ketua RW sadar, Kyai Khoiron baru megajaknya berdialog mengenai kebaikan dan masa depan kampungnya. Selain itu, juga melakukan dialog-dialog kecil dengan para perangkat desa, pada akhirnya Kyai Khoiron mendapatkan izin dari mereka untuk melakukan dakwah dan pembinaan mental kepada para PSK dan mucikari yang ada. Ketika itu, perhatian Kyai Khoiron tertuju pada Gedung Bioskop Bintoro yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumahnya, tepatnya berada di  ujung jalan Bangunsari. Selain karena lokasinya yang tidak begitu jauh, gedung bioskop tersebut menjadi wahana hiburan murah meriah bagi para PSK dan mucikari, serta para hidung belang. Saat itu, Kyai Khoiron dalam benaknya berfikir, Gedung bioskop tersebut bisa menjadi salah satu media untuk memulai aktivitas dakwahnya. Dan menjadi gerbang awal dakwahnya untuk menolong menyadarkan kekeliruan para PSK dan mucikari. 
Aktivitas dakwah yang yang dilakukan oleh Kyai Khoiron memang terlihat unik dan aneh. Seakan sebagai sebuah profesi dan menjadi mata pencarian. Sebab, meskipun mereka (PSK dan mucikari), rajin mengikuti pengajiannya Kyai Khoiron, mereka juga tetap menjalani aktivitasnya sebagai PSK dan mucikari. Hal tersebut yang selalu disayangkan oleh masyarakat yang tidak senang terhadap kehadiran Kyai Khoiron. Dan mereka menganggap apa yang dilakukan Kyai Khoiron hanya perkerjaan yang sia-sia. Tetapi, Kyai Khoiron memiliki pendapat yang berbeda, dirinya tidak pernah menegur bahkan mengancam jamaahnya yang kembali lagi menjadi pelacur atau mucikari, sebab ia yakin hidayah dari Allah datangnya tidak bisa ditebak dan direkayasa, apa yang dilakukan hanya sebatas usaha seorang hamba untuk menolong hamba yang lain, seiman dan yang sedang tersesat. Persoalan insyaf atau tidak, itu urusan Allah SWT. Tapi dirinya yakin, suatu saat Allah akan menurunkan hidayah dan membuka pintu hati mereka (PSK dan mucikari) untuk bertobat.
Keberhasilan dakwah secara optimal tidak bisa dilakukan hanya secara individu, tetapi harus dilakukan dengan cara membangun sebuah jaringan atau kerjasama dengan berbagai elemen terkait. Sebagaimana dakwah yang dilakukan kyai Khoiron Suaeb di lokalisasi prostitusi di kota Surabaya mencapai keberhasilan optimal sehingga bisa menutup  lokalisasi prostitusi terbesar se-asia tenggara yaitu Bangun Sari, berkat kerjasama dan jejaring yang amat kuat yakni beliau melakukan kerjasama dakwahnya dengan berbagai elemen antara lain, MUI Jawa Timur, seksi kerohanian RW setempat, IDIAL-MUI Jawa Timur (Ikatan Da’I Area Lokalisai), Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Kesra Provinsi Jawa Timur, aparat kepolisian, Dinas Sosial kota, TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) dan beberapa elemen lainnya.
Di samping dakwah dengan jejaring di atas, kyai Khoiron melalui IDIAL, mencoba  mengantarkan mereka untuk  alih profesi (dari bekerja sebagai WTS menuju pekerjaan lain yang halal) dan alih fungsi (mucikari yang memfungsikan rumah tinggalnya sebagai tempat bordil menjadi fungsi menjadi rumah kontrakan atau kos-kosan dan fungsi lainnya). Beliau menggunakan SOP (Standard Operational Procedure) sebagai berikut:
1.  Melakukan pendekatan kepada para mucikari dan PSK baik secara personal maupun secara kelompok untuk diberi arahan dan pembinaan mental agar muncul kesadarn diri untuk berubah menjadi manusia normal.
2.  Melakukan pembinaan mental secara rutin lewat pengajian, ceramah agama dan  qiyam al-Lail  (sholat malam yang dilakukan setiap malam juma’t terakhir pada setiap bulan).
3.  Mendata para mucikari dan PSK yang sudah mulai tumbuh kesadaran untuk insyaf guna dilakukan langkah selanjutnya yaitu dilakukan pendataan terhadap keinginan mereka jika mereka sudah insyaf, mereka ingin membuka usaha apa dan mereka diberikan latihan keterampilan oleh Dinas Sosial sesuai dengan keinginan mereka masing-masing, ada yang tata  boga, menjahit, merias kemanten dan handycraft.
4.  Setelah mereka mempunyai keterampilan, mereka diharuskan pulang meninggalkan lokalisasi prostitusi dengan diberi bantuan stimulan yang dananya disupport  oleh Biro Kesra Provinsi Jawa Timur untuk mucikari yang dikelompokkan sebagai wanita rawan sosial ekonomi, masing-masing orang mendapatkan stimulant sebesar Rp. 5-10 juta, dan dari Kementerian Sosial RI untuk para PSK masing-masing orang mendapatkan Rp. 3-4,5 juta.
5.  Setelah para mucikari dan PSK dipulangkan monitoring  (pemantauannya) dilakukan oleh TKSK dimasing-masing kecamatan dan pemerintah setempat (Dinsos).
Dengan pendekatan dan model dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh Kyai Khoiron tersebut diatas, maka keberhasilan dakwahnya dapat mencapai hasil secara optimal, yaitu dapat mengentas beberapa mucikari dan PSK bahkan dapat menutup sebuah lokalisasi prostitusi terbesar di Surabaya.
Laporan ini berasal dari kuliah lapangan Ilmu Dakwah yang diampu oleh Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M. Ag pada tanggal 13 April 2019 dengan tema Dakwah Kontemporer dan Enterpreneurship. Bertempat di Masjid At-Taubah yang berlokasi di Kupang Gunung Timur VII B/141 Surabaya.











WhatsApp Image 2019-05-11 at 11.47.17.jpeg
WhatsApp Image 2019-05-11 at 11.41.46.jpeg
 

























             





Sebagai penutup saya akan menuliskan 5 kesan utama dan pelajaran berharga dari kuliah lapangan ini.
1  1.   Merasa bangga bisa bertemu sosok hebat dalam berdakwah
  2    Memahami bahwa setiap hal yang negativ bisa diubah menjadi hal positif dengan segala niat dan usaha
3.     Merasa terpanggil untuk mengikuti jejak pemateri dakwah
4.      Merasa bangga bisa melihat dolly dengan wajah yang baru
5.      Terima kasih kepada Prof. Ali, bu Baiti, dan bu Atik yang telah memberikan kesempatan kepada saya dan teman2 untuk mengikuti kuliah lapangan ini, sehingga saya dan teman2 mengetahui bagaimana perjuangan berdakwah oleh orang-orang hebat yang berpengalaman.



Komentar

Postingan Populer